Kamis, 22 Mei 2008

Senja Di Wailago


bila malam akan menjelang dan siang segera undur, berdoa saja tak ada jelaga hitam dilangit, maka akan selalu indah langit di ufuk barat. Saya sering terpaku menatap barat dan memimpikan momen ini sepanjang waktu. Pulau Besar berada di utara Maumere,ibukota Kabupaten Sikka terpisah selat pedang yang mengisolasi warga di pulau ini. Saya datang dua tahun lalu, melakukan grounded research disana, mendirikan rumah sekolah, dan memberikan satu pilihan kepada warga di sana yang tak mengenal huruf dan angka : membaca atau terlindas perubahan.

Sejarah Karet di Taman Nasional


Sejatinya, sebuah taman nasional itu ditumbuhi tanaman eksotis hutan dan tumbuhan endemik langka lainnya. Nah kok di Bukit Duabelas ini, tepatnya dalam kawasannya yang 65 ribu hektar, malah terdapat kebun-kebun karet milik orang rimba dan orang dusun? Jadinya aneh, pantes saja banyak konflik lahan, karena sejarah ‘tegaknya’ taman nasional sendiri menapikan sejarah penghuni asli wilayah itu. Orang rimba di taman nasional dianggap ahistoris yang harus mengalah demi konservasi. Padahal umur TNBD baru 8 tahun karena berdiri sejak tahun 2000 lalu. Tapi lucunya dibalik klaim berdirinya taman nasional tadi ternyata ‘ladang karet’ tradisionil masyarakat menjadi tercaplok ke dalam kawasan itu.

Wah mana buktinya? Kata kehutanan yang kadang memakai pendekatan legal formal alias klaim hukum untuk mengibuli masyarakat orang rimba yang menuntut soal lahan karetnya.
Baiklah ini buktinya seperti narasi dalam tulisan dan photo tentang ‘getah’ di atas. Photo itu diambil di wilayah utara barat Taman Nasional, tepatnya di hutan Sungai Makekal agak hilir. Itu lokasi ditengah taman nasional, dan umur pohon karet produktif ini, jelas-jelas lebih dahulu dibandingkan taman nasional. Pohon karet adalah tanaman non endemic sumatera, pohon itu asalnya dari brazil, yang dibawa ke Indonesia bersamaan dengan masuknya pendatang dari luar nusantara.
Memasuki masa produksi pohon karet butuh waktu sekitar 10 tahunan atau lebih. Begitulah, maka tak tepat klaim kehutanan tersebut bila berdasar pada bukti legal. Sejak dari nenek moyang, orang melayu jambi dan orang rimba tak mengenal apa itu sertifikat tanah sebagai bukti sah. Kepemilikan diakui berdasarkan keberadaan tanaman diatasnya. Siapa yang membuka pertama sebuah lahan atau hutan lalu menanaminya maka itulah tuhan atau pemilik tanah dan kebun tersebut.

Mari dengar pernyataan seorang Tumenggung – pemimpin adat - di rombong air panas sisi selatan Taman Nasional Bukit Duabelas saat berkonflik dengan KSDA dan dinas kehutanan tahun 2006. Saya kutip kata-kata beliau menyangkut keresahan komunitas adat saat terancam diusir Negara akibat terbitnya RPTNBD atau Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas.
“Kami tidak mengerti undang-undang Negara, yang kami ngerti bahwa kami punya adat dan undang-undang nenek moyang, sejak langit naik dan bumi terciptai kami tinggal disini lah, Negara hanya datang belakangan ke hutan kami, seharusnya negara bertanya pada adat kami”
Ya ampun kalau begitu sudah jelas seharusnya, bagaimana ini tuan pemimpin yang ngatur Negara? Lah jangan niru-niru cara kompeni jaman VOC dulu. Inget lho, sekecil-kecilnya semut, kalau diinjek, satu atau dua ekor atau beramai-ramai pasti aja sanggup gigit itu kaki kompeni.

Rumah Ladang : Kukuruyuk-Kukuruyuk


Senja cuaca mendung, langit sesaat lagi kelam, gerimis mulai turun, saya terpaksa tak melanjutkan perjalanan, “ah, gimana ini?” Setapak di hutan makekal semakin tak terlihat, saya berjalan oleng tak konsen lagi, sebentar-sebentar terjatuh lemas, “kukuruyuk,kukuruyuk” Ada yang berbunyi seperti ‘cacing’ di perut ini. ah tandanya lapar kalau begitu. Tapi kok kukuruyuk? Ah persetan apapun jenis bunyi diperut ini, yang jelas jalan masih jauh setengah harian lagi ke depan, disana tujuan kami dibalik dua buah bukit. Hujan lalu turun lebat sekali membasahi hutan dataran tropis di jantung sumatera ini.

“Sebaiknya kita menginap, besok pagi dilanjutkan" kata teman saya yang asli Makekal. Dimana kita bermalam, bagaimana ini? saya bingung karena kami tak bawa tenda dan makanan cukup. Ah beginilah kalau cocongoron alias sombong merasa hebat takakan tersesat. Seharusnya saya antisipasi hal terburuk sekalipun, apalagi ceritanya mau jalan di hutan. Saya dengan teman ini terus berjalan tak pasti, kelaparan, dan terus teriak-teriak berharap ada orang disekitar kami yang mendengar.

"Siapooo" Sahut-sahut dari jauh suara orang menyakan siapa kami.
“Kamia sosot ndok mati tekarot” Teman rimba saya teriak membalas dan berkata bahwa kami tersesat dan mau mati karena kelaparan.
“Kemaaii” teriaknya mengundang kami datang.
Ah dasar teman saya ini senangnya hiperbolis, gak mungkin deh mati karena gak makan setengah hari. Laper memang laper, tapi saya masih ingat, kami berdua makan nasi bungkus gulai ikan dari RM Minang Raso di luar hutan sebelum masuk hutan Makekal. Tapi biarin aja, saya butuh shelter untuk melewati malam hujan terkutuk ini. Brrrrrr,.. kami gemeletuk kedinginan sambil merayap dikegelapan menuju suara undangan mampir itu.
“Oh, Bujang lapuk, noeklah anggo rumah guding, akeh ado ubi kayu” Rupanya ini rumah seorang bapak yang saya kenal juga, namanya tak perlu disebut, dia bilang setengah menghina saya soal status bujangan saya. Tapi ia mempersilahkan naik ke rumahnya, tepatnya lagi rumah di tengah ladang yang sekelilingnya hutan belantara.

Pemukiman orang rimba selalu dekat dengan sungai dan dengan tetangga terdekatnya berjarak relatif, paling dekat sejarak saling terdengar saat berteriak.
Ubi kayu rebusnya sudah dingin karena sejak sore dia masak, saya tak tahu diuntung dengan kebaikannya. “ada yang hangot guding?” Maksudnya saya tanya ada yang panas? Dia menggeleng dan hanya memonyongkan mulutnya ke arah luar menunjuk pepohonan ubi kayu yang tertanam di hamparan ladangnya yang sudah gelap. “kalau mau ambil di kiun” Kata dia lagi menyilahkan saya mencari dan mencabut sendirin jika mau ubi kayu hangat. Ah hari sudah malam, saya telan saja ubi kayu dingin ini, daripada harus mencabuti batang ubi kayu sendiri.
Esok paginya. Saya disuguhi lagi ubi kayu yang panas dan nikmat sebagai sarapan.Terima kasih kawan, lalu saya pamit, lalu kami berjalan lagi, menyusuri setapak, melanjut perjalanan yang tertunda semalam.

Senin, 07 April 2008

Yang Datang dan Yang Pergi


Suatu hari datang ke sokola rimba di Sakonapo seorang murid yang sudah seminggu ini tak kelihatan belajar. Dia datang sambil tersenyum dan menjawab dengan pelan apa yang saya tanyakan.

“Kemana saja kawan selama ini?”
“Ake pergi bermalam bantu kanti menuoi padi”
Begitu jawabnya yang artinya saya pergi menginap bantu orang memanen padi.

Dia mengatakan lagi bahwa panenan belum selesai dan ia bermaksud mengambil bukunya agar ia bisa belajar sambil membantu memanen.

Oh mengharukan sekali mendengar tujuan dia datang, saya suruh ambil itu buku miliknya, dan saya tambah terharu saat sebelum pergi ia mengerjakan sebentar latihan-latihan yang seharusnya ia kerjakan nanti di tempat panenan sambil tengkurep beralas matras di halaman sokola rimba.

Sehabis makan siang bersama di sokola rimba, ia pamitan untuk pergi lagi, ”Berapa lama kawan pergi guding?” Tanya saya kepadanya.“Eh entah” Ujarnya sambil berjalan mantap meninggalkan sejenak sokola rimba di Sako Napo Makekal Hulu..

Selepas kepergiannya, datang pula murid yang lain, yang sama menghilang karena kesibukan di rombongnya. Tapi yang ini lain,dia baru pulang kerja rotan dari Rimba Telay agak 30 kilo meteran dari rimba Makekal.

“Mumpamono ado hasil?” tanya saya menanyakan hasil kerjaannya di Rimba Telay,
Ujar murid itu katanya lumayan sambil dijelaskan bahwa dari hasil ikut kerja rotan itu ia bisa membelikan gula dan tembakau buat orang tuanya.

Ah, hebatnya anak-anak ini, karena setelah selesai menunaikan tugas dan bantuan kecil untuk orang disekitarnya ia akan belajar lagi. Teruslah belajar dan jangan pernah berhenti karena persoalan hidup tak akan pernah berhenti.

Ambung Tikar dan Kesetaraan Gender


Kehidupan semi nomadik di relung berburu dan meramu di kawasan hutan ini bisa tergambar dari peralatan hidup yang dipakainya. Ambung dan tikar misalnya, alat bantu ini lantas menjadi sesuatu yang paling berkontribusi dalam mendukung gaya hidup mereka sejak ratusan tahun di kawasan hutan yang kini di klaim sepihak menjadi Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD).

Ambung dan tikar juga bermakna simbolik bahwa suku ini memang bisa kapan saja pergi dan kapan saja tinggal di kawasan tertentu tanpa harus merepotkan siapapun. Easy come easy go mungkin pas buat menyatakan kebiasaan berpindah mereka, itu pun menurut saya.Orang Rimba kerap menyingkir menghindari konflik, berpindah ketika kematian menimpa, mereka juga saling berkirim dan berbagi makanan kepada kerabatnya, dan yang membuat mereka selalu bergerak secara terukur adalah bahwa siklus musim-musim sumber pangan mereka juga harus didapatkan dengan cara ‘bergerak’ ke arah sumbernya.

Ambung sebagai keranjang dapat memuat semua perbekalan saat bergerak ke sumber pangan. Lalu dengan ambung itu pula orang rimba saling mendistribusikan sumber pangan hasil hutannya untuk keberlangsungan setiap rombong. Tikar pun demikian, ia berguna sebagai alas tidur saat lelah bergerak di hutan. Tikar perlambang kemerdekaan mereka dalam menentukan dimana dan kapan mereka harus bermalam dan berpindah.

Ambung dan tikar disebut perbuatan betina karena jenis kelamin inilah yang memiliki skill membuatnya saat mengisi waktu luang. Meski betina yang membuat namun menjadi hak milik laki-laki di dalam pengaturan adatnya. Sebaliknya membuka ladang, berburu, mencari rotan, mengangkut hasil buruan, dan pekerjaan berat yang membutuhkan tenaga dan daya jelajah jauh adalah kewajiban para lelaki untuk mengerjakannya. Namun selanjutnya kepemilikan perbuatan jenton ini menjadi hak milik perempuan dikemudian hari..

Dengan mekanisme pengaturan hak milik seperti ini maka perceraian menjadi hal yang paling ditakutkan oleh lelaki, di sini semua suami takut pada bini, karena apa? Bila perceraian terjadi maka laki-laki hanya berhak atas sebuah ambung, tikar, dan parang saja. Sementara ladang dan kebun yang dibuka dan dihasilkan selama menikah akan jatuh menjadi hak milik perempuan. Terbayang sudah bahwa laki-laki akan mulai hidup dari nol lagi jika mencampok atau menceraikan istrinya.

Oh kalau adatnya seperti itu, itu menindas lelaki, mengapa ada ketidakadilan gender bagi kaum lelaki dalam mekanisme adat mereka? Wah harus disosialisasikan dong pemahaman gender dan apa itu ‘persamaan hak’. Seperti itu mungkin yang dipikirkan oleh para aktivis gender. Siap jender! ngaco ah maksutnya siap jenderal.

Aih-aih bukan itu intinya, keadilan dan kesetaraan itu relative bro, dianggap adil bila masing-masing kelamin sadar diposisi mana ia berada dan memaklumi alasan perlakuan tersebut. Lelaki di rimba itu mengetahui bahwa istri-istri mereka juga bertaruh nyawa saat melahirkan dan bekerja keras mengasuh anak-anaknya. Lelaki rimba juga memahami bahwa betina memiliki keterbatasan lahiriah dengan status kewanitaannya. Siapa yang akan bertanggung jawab memberinya makan bila perceraian terjadi dan si perempuan tak punya ladang dan kebun?

Jadinya malu aja jika kaum sekuat kita merencanakan bikin sebuah koalisi lelaki untuk menyuarakan kesetaraan gender bagi pria yang tertindas oleh sistem budaya yang pro perempuan. “Idih kagak deh”

Hai para feminis apakah kalian menyadari betapa tegarnya seorang lelaki selama ini dalam menghadapi realitas kehidupan yang berat sebelah itu?

Sabtu, 22 Maret 2008

Pada Suatu Sore


Dibingkai sebatang pohon meranti yang roboh, beratap langit transisi, saya tiba-tiba sentimentil dibatas siang dan malam kala itu. orang rimba menyebutnya puang nyimpoy untuk suasana demikian.Puang nyimpoy sederhananya saat langit seperti jingga langit makekal sore itu

Hutan Makekal lima tahun lalu masih ada dibelakang pohon tertinggi dibingkai itu sejauh ratusan depa, hijau, rapat, dan lembab. Kini tepat saya berdiri di batas transisi antara bukaan ladang baru dan hutan tersisa, saya memotret tanda-tanda kepunahan. Saya harus berjalan agak jauh untuk mandi di musim kering tahun ini, semua anak sungai kering dihisap kemarau, hulu-hulu sungai hutannya rusak, bukaan dimana-mana.

Sayup-sayup kepak sayap sepasang burung rangkong gading atau hornbill menderu membelah langit menuju pohon yang menjadi sarangnya.

Keindahan langit makekal sore itu menyembunyikan kekuatiran orang-orang rimba di Makekal Hulu, akan desakan, dan degradasi hutan adatnya oleh macam-macam tekanan. Semua akan sentimentil rasanya bila harus menjadi saksi punahnya sebuah tradisi relung pemburu dan peramu oleh perubahan fisik hutannya.

Tak akan saya temukan lagi pemburu hebat macam gaek di pengelaworon bila hutan sudah tak ada lagi. Perubahan fungsi hutan menjadi ladang-ladang pertanian bukan masalah fisik belaka, fenomena ini juga menandai satu perubahan dramatis, perubahan gaya hidup : dari berburu dan meramu yang semi nomad ke pertanian yang semi menetap. Ada banyak waktu yang tersita atas pilihan itu, dan berburu akan dijadikan hanya selingan, lalu ditinggalkan sama sekali setelah hutan semua berubah menjadi pertanian.

Dikemanakan ilmu perburuan hebat itu nantinya? Dan akankah saya temukan lagi suku beridentitas orang rimba di tahun-tahun di hadap?

Malam itu sepulang mandi di makekal, saya makan malam, lalu merokok, lalu ngobrol sebentar, lalu lihat-lihat anak-anak rimba belajar, ketawa-ketiwi berpantun, lalu siap-siap tidur. Lokasi sokola rimba pun berpindah semakin ke dalam, kini tepat di patok taman nasional, dulu kami jauh ke depan di sungai kedundung jehat sejarak ratusan depa dibelakang pohon tertinggi di bingkai poto itu.

Malam makin larut, saya masih tak bisa tidur, ada tumpahan kopi di tikar, semut berkerumun pesta manis sambil sekalian gigitin punggung saya yang atletis. Oh betapa menjengkelkan semut sialan ini, kalau begini saya tak mungkin bisa tidur, Ya Iya Lah, kirain karena sentimentil?

Selasa, 18 Maret 2008

Cerita Katapel


Seorang raksasa dalam dongeng masa kecil yang di citrakan jahat yakni Goliath mungkin mengenang senjata tradisionil katapel sebagai hal yang paling ia benci dibandingkan David si pemilik katapel. Sekali jepretan pake batu dengan akurasi tinggi membuat Goliath tewas dan sejak itu ia menjadi legenda yang dikutip beragam kitab suci sebagi the hollymen yang berhasil mengalahkan ‘kejahatan’. Kisah David dan Goliath bahkan menjadi simbolisasi penyemangat kaum minoritas dan pihak kuda hitam tentang ‘mimpi’ yang bisa diraih. Katapel rupanya bersejarah dan disebut-sebut di kitab suci yang dianut milyaran manusia.

Sanggupkah David membunuh Goliath bila tak menggunakan Katapelnya? Matikah Goliath bila bukan David yang ngetapel?

Beurat pisan pertanyaannya bro, kayak filsuf. Biar gak pusing begini saja pertanyaannya bro, saya bayangin katapel david itu segede pintu dan pelornya batu segede kepala orang dewasa karena sekali ‘hajar’ raksasa bisa is death, segede apa tangan david bro? Mungkin sama ukurannya dengan betis Ade Rai, lupain analisis ngawur itu, jas kiding bro.

Yang pasti. Tentang legenda David ini ibu saya menyebutkannya sebagai Daud, dia seorang yang dipercaya oleh agama yang saya imani sebagai nabi. Orang suci saja memakai katapel sebagai senjata terbaik untuk melawan kejahatan raksasa tersebut. Tapi kenapa bro, sewaktu saya tergila-gila maen ketepel (bhs sunda red) pas lagi kecil selalu dilarang-larang atau kalau saya bedegong (bandel) tetep ngetepelin something saya suka diwanti-wanti untuk ekstra hati-hati. Itu pesan ayah saya sewaktu masih hidup. Katanya membahayakan keselamatan orang sekitar. Jadi harus jangan pake batu, mesti pake tanah ATAU yang lembek-lembek. Maklum anak kecil suka pengen tahu, maka saya menanyakan dengan kritis alasannya itu.

“Kenapa harus pake tanah liat pak?” Kata saya waktu itu dengan lugunya.
“Ya harus tanah liat karena kalau pake baso atau combro enak di orang” Kata beliau yang selalu saja saya merasa kehilangan atas kepergiannya.

Jaman itu pas saya kecil memang belum ada game-game model Play station, jaman baheula mohon dimaklum, namun saya menyukuri ke baheula-an itu. Karena saya dipaksa rada kreatif untuk membuat mainannya sendiri dari bahan yang ada, pokoknya mah bro jaman itu jaman ramah lingkungan serba alami. Dengan ketepel saya dilatih akurasi dan bergerak sambil melontarkan batu atau kelereng, dan kalo ada bapak pake tanah, sasarannya jambu atau buah-buahan tetangga, benda bergerak atau kaleng sebagai target. Saya mengasah naluriah mempertahankan diri karena ketepel,siapa tahu ada perang dengan Belanda lagi bro, sebelum merebut senjata musuh mungkin saya akan pake ketepel,

“prakk, aduh, kehed siah” maksudnya itu suara orang tak sengaja kena ketepel dan mengumpat kehed yang artinya kurang ajar alias sompret loe

Sejak kejadian itu, bapak mengambil ketepel saya dan entah sampai sekarang kemana fosil senjata masa kecil saya itu bro karena orang tersebut harus diobati ke rumah sakit muhamadyah setelah itu. Benjol dan sobek 6 jahitan dikepalanya. Bapak saya agak marah dan sejak itu saya ucapkan ‘gudbay’ buat katapel.

“Kenapa tidak nurut bapak? Kan sudah dibilang pake tanah?”
“Saya pake tanah pak”
“Lha ini buktinya orang bocor dan dia bilang pake batu”
“Memang batu pak,tapikan batu asalnya dari tanah”
(Obrolan itu diterjemahkan dari percakapan bahasa sunda)

Bapak nyerengeh alias ketawa sedikit sambil manggut-manggut,”pinter anak bapak, pinter, ciatt wadejiksss”

Namun Tuhan serba kuasa mengatur reunian saya dengan kenangan masa kecil itu. Saya kebetulan punya kerjaan bersama orang rimba di hutan Makekal, sisi barat taman nasional bukit duabelas di jambi. Katapel di sebut Peci oleh anak-anak rimba di sana, dan ngetapel dibilang memecion. Hampir semua anak punya peci dan lihay membidik apapun dan biasanya burung atau tupay, atau apapun yang penting bisa jadi lauk makan. Itulah bedanya katapel di masa kecil saya dengan memecion di anak-anak rimba. Di sini katapel adalah pola enkulturasi adat kerimbaan untuk mempertahankan keberlangsungan juga latihan diri untuk ‘perburuan sesungguhnya’. Juga saat komunitas ini direncanakan akan dikeluarkan dari hutan sebagai konsekuensi aturan zonasi taman nasional, sahabat kecil saya, penangguk dengan tegas bilang bahwa ia akan peci kepala orang yang akan mengusirnya,

“Meski kaloh tetap kami lawon”

Duh penangguk, betapa kagum saya dibuatnya. Sekecil itu ia menyadari bahwa hak-nya mesti diperjuangkan meski hanya dengan sebuah katapel, tanah liat seambung, karet bekas ban dalam bernama benen dan ubi kayu rebus.

Dedaunan basah dan setapak berlumput selama hujan, burung pun tak berbunyi, hujan membuat burung-burung itu lega sejenak, “ah damai dan amannya jiwa-jiwa kami” Demikian mungkin isi hati kaum burung di saat hujan, karena hujan membuat anak-anak rimba mengistirahatkan sejenak katapelnya untuk kembali belajar di ruma sokola. .

Sabtu, 15 Maret 2008

aspirasi di bukit setan


Ini bukan cerita silat dan bukan pula cerita tentang persekutuan manusia dengan iblis, ini hanya kisah sebuah penemuan. Istilah inteleknya discovery – lihat kamus kalau-kalau salah. Kumulai saja kisah ini -- dengan seijin sahabat kecilku Sertu Tampung yang photonya aku sertakan – dan berharap apa yang sedang diperjuangkan oleh komunitasnya dimana sertu hidup berbunyi nyaring dan dibaca orang. Khususnya bagi orang yang keasikan di dunia maya. Mari sejenak turun membumi Bro.

Lima tahun yang lalu, sejak henpon dibawa-bawa ke hutan makekal, aku hanya pergunakan alat itu sebatas sebagai kalkulator atau main game. Aku nyalakan sewaktu-waktu hanya sebagai penerang saat darurat di hutan dan itu pun kalo senter ku kehabisan batere. Tak berfungsi sebagaimana mestinya itu henpon. Maap-maap saja bro tempat dimana sertu tinggal – hutan di kawasan taman nasional bukit duabelas – adalah wilayah blankspot alias gak ada sinyal.

Life goes on dan semua berubah tiga tahun yang lalu sejak ‘korporasi’ berbasis telekomunikasi meluaskan pasarnya di kota Bangko -- kota terdekat dengan wilayah hutan Makekal dimana sertu tinggal – sejak itu akibat tower sinyal berdiri dimana-mana maka sinyal henpon tanpa sengaja bisa didapatkan dengan sedikit usaha dan pencarian yang melelahkan. Pucuk-pucuk bukit adalah tempat yang kerap aku datangi untuk pencarian ini, tak selalu bawa hasil, sepanjang ada waktu luang aku selalu mencari bukit yang lain lagi.

Sampai akhirnya kutemukan sebuah bukit bernama bukit Keluhu Tetunu. Keluhu itu nama orang rimba, sementara tetunu itu artinya kebakar. Si keluhu terbakar dibukit itu, demikian cerita menurut mitos orang rimba Makekal dibalik nama bukit itu. Penemuan tak sengaja dengan sinyal ini, waktu itu saya melintas dengan motor sewaktu masuk hutan makekal sehabis ke pasar membeli logistic, tiba-tiba kudengar bunyi ‘tit’ tanda sms masuk. Setengah kaget kubuka pesan di inbox, kubaca, ah betul juga, ada sinyal di sini. Pengennya berlama-lama di situ, saya hanya reply saja karena hari mulai gelap. Perbukitan ini sering dilalui beruang yang mencari madu, aku takut dan cabut segera menuju lokasi tempatku kerja di sokola rimba.

Esoknya kukabari semua, tentang penemuan ini, semua rekan kerja ‘berbinar-binar’, lalu segera kami berangkat ke tempat itu. Berombongan di temani sahabat kecilku. Di tempat yang aku tandai aku nyalakan henponku dan langsung kucoba hubungi seseorang, nyambung bro dan diangkat. Tak segera kubalas halo darinya, aku malah jingkrak kegirangan, dan sahabat kecilku tertawa campur heran. Selanjutnya aku larut ngomong dengannya, ngomong sendiri, senyum dan ketawa sendiri, seperti orang gila kata anak-anak rimba yang mengantarku waktu itu. Waktu kusebut bahwa orng yang aku telpon sedang berada di kota Yogyakarta -- dimana dipisahkan jarak ribuan kilo terpisah laut bernama selat sunda dengan Jambi -- maka semua keheranan dan rebutan ingin ikut ngomong dengan orang yang aku telpon. “Eh tuhan kuaso, nioma bukit setan” Kata mereka yang keheranan dengan cara kerja sinyal dan henpon ini yang bekerja ibarat setan tak terlihat..

Tak ada jarak lagi kini, teknologi mengatasi kendala itu, namun aku harus menerima kenyataan lain bahwa kekuatan capital mampu menjangkau dan menerjang wilayah terpelosok sekalipun.

Hari berikutnya, berharap seperti orang luar yang memiliki henpon, anak-anak sokola rimba membuat henpon mainan dengan tanah liat, dan mencoba menirukan tingkah setiap orang saat ‘membuang pulsa’ di bukit setan.

“Begini pak kami pokonya tidak mau diusir dari taman nasional bukit duabelas, itukan hutan adat nenek puyang kami ?" Sertu beracting serius, kemudian " Apo pak? Hutan itu milik Negara? Negara mano pak? Apo gak jelas? Oh jadi sinyalnya lagi gangguan yah, nggak dengar yah? Hallow?”

Seperti itulah Sertu Tampung memimpikan aspirasinya dengan beracting lucu seolah menelpon kepala dinas kehutanan yang akhirnya tak mendengar suara Sertu karena alasan teknis gangguan sinyal. nggak denger apa nggak mau denger?

“Sertu coba telpon lagi kehutanon! mungkin kini lah sodah bagus sinyalnyo”

“Ah buang-buang pulsa bae, biarlah, sejak lamo kami bisa hidup dan menjego hutan tanpa harus ado kehutanon”

Nah lho, nggak enak kan di cuekin?

Kamis, 06 Maret 2008

kain dan simbolisasi adat


Sehelai kain tergeletak diatas papan, di setapak makekal, basah tanpa sempat diambil pemiliknya. Kain itu tepat berada di sebuah tempat yang kerap disebut pencibuk’on (jamban) tanpa dinding yang dilaui jalan setapak. Ini bukan kain sembarang kain? Di rimba ini dalam adat rimba makekal, kain adalah penanda agar saya hati-hati saat menapaki jalan setapak. Jangan selonong boy bro, di hutan ini ada tata kramanya, bahkan untuk mengatur para pejalan kaki yang melintas di dalamnya.

Mobilitas antar rombong, atau antar manusia di mungkinkan oleh sarana jalan setapak yang dibuat mereka. Setapak itu kadang melintasi ladang, kebun karet, rumah kerabatnya bahkan melewati langsung ‘jamban’ atau pencibuk’on tiap rumah tangga yang tentunya kita harus waspada bila menemuinya.

Yang aman dan sesuai adat adalah besasalung atau berteriak dulu, bilang apakah ada orang di sana tepatnya perempuan, kalau tidak ada maka lajulah kita melewati pencibok’on itu. Bila ada perempuan misalnya kita harus menunggu sampai mereka berteriak tanda sudah,
“Nompuhlah kamia lah sodaahhh”

Nempuhlah kami melewati pencibuk'on sebuah tubo. Tubo itu artinya rumah tangga bro. Oh ya bro, jalan setapak itu melewati sungai selebar dua meter, ada jembatan papan yang sekaligus dijadikan dermaga pencibuk'on, di tengah papan itulah kain itu tergeletak.

Apa yang terpikir akan kamu lakukan dengan itu kain bro? Ah jangan jail bro?

Kain adalah simbolisasi adat paling luhur : alat bayar denda dan penjagaan bagi perempuan. Perempuan memang nian dilindungi dengan strength oleh adati, ia mendapat perlakuan khusus untuk terhindar dari pengaruh jahat dunia luar. Hanya memegang kain tergeletak saja sudah labuh hukum cela tangan bro, dianggap pemilik kain itu telah dipegang kita yang bukan suami atau muhrimnya. Dendanya sejumlah kain bro. apalagi kalau kamu jail, itu kain dijadiin lap tangan misalnya atau di pindahkan dengan maksud dijemur, itu juga salah bro. Ulah heureuy di leuweung mah bro maksudnya jangan main-main kalo di hutan mah.

Cerita itu sungguh-sungguh, tak mengada-ngada, kebetulan waktu itu, saya harus lihat lokasi sekolah baru di Lubuk Bekerang. Sambil mendrop logistik makanan ke sekolah tersebut, sejam dari sekolah di sako napo, tepatnya di muara anjing merajuk, saya menemukan kain tersebut.

Rabu, 05 Maret 2008

Sekolah Kehidupan bagi Anak Tayawi


Sumber informasi paling terbaru kelompok suku asli halmahera ini didapat dari liputan koran lokal di Ternate yang memberitakan kunjungan seorang pejabat ke orang ‘togutil’ yang hidup di hutan-hutan sepanjang sungai Tayawi.

Siapa sesungguhnya ‘togutil itu? Apa makna nama itu sendiri di dalam intepretasi masyarakat suku asli di Halmahera bro?

Dipelajari lebih lanjut ternyata togutil itu sama makna dan nasibnya dengan istilah kubu bagi suku-suku asli di Jambi. Orang rimba bahkan menganggap kubu sebagai hinaan atas cara hidupnya yang berbeda dengan orang kebanyakan. Togutil apakah pernah kepikiran bahwa kata ini merupakan kependekan dari to go to the hill. Orang-orang yang tinggal di perbukitan, orang bukit, orang yang tak menetap, ah seterusnya disebut Togutil yang konotasinya liar dan tak beradab dipandang kita yang mengaku beradab.

Mereka disebut Orang Tayawi oleh warga pendatang di dusun dan lokasi transmigrasi di sekitar karena hidup di sepanjang hutan di sungai Tayawi. Dan beberapa kali mereka menyatakan ingin sekolah dan meminta pada pejabat yang mengunjungi mereka dalam koran itu. Seperti yang sudah-sudah, kunjungan itu hanya strategi kehumasan belaka, aspirasi orang tayawi ini tak pernah di gubrisnya. Itu kata mereka sendiri saat saya bilang saya tahu lokasi ini setelah membaca Koran.

Tempat itu dicapai beragam transportasi laut dan darat. Bikin cape bro dan mahal sekali ongkos menembus Halmahera. Jalanan buruk , apalagi hujan, tambah hebat kesulitannya. Namun itu sudahlah, toh kami ahirnya bisa ada di kelompok orang tayawi ini yang dipimpin seorang bernama Kahoho. Kahoho sudah tua, anggota kelompoknya adalah anak dan menantu, serta cucu-cucunya. Lebih pas di sebut keluarga besar. Sekilas diobrolan dengan salah satu menantunya tergambarkan bahwa orang tayawi ini pesimis pada masa depannya.. Kami orang-orang kalah dan terdesak terus oleh dunia luar.

Orang Tayawi menyebutkan dunia luar itu banyak macam : Perusahaan Tambang yang menggusur tanah leluhurnya, transmigrasi yang makan lahan luas, perkebunan besar milik swasta dan Negara, dan juga ‘peng-agama-an’ mereka oleh pihak luar. Kelompok mereka dianggap sekumpulan domba yang tersesat, kafir, dan bergelimang dosa dan menjadi sasaran pengagamaan. Sejak itulah orang-orang asli ini tercerai berai dan terdesak serta kehilangan identitasnya oleh ‘larangan-larangan terhadap ritual agama asli oleh agama baru yang menganggap dirinya sebagai agama resmi. Hilang sudah fundamental kebudayaannya bila ketuhanan asli di paksakan takluk terhadap tuhan yang baru, tuhan yang resmi, dan tuhan yang diakui Negara.

Negara dari hongkong? Kata kami dalam hati. Seperti itulah negeri kita bro, banyak benar masalahnya, seabrek bro. bahkan untuk urusan tuhan aja sukanya maksa-maksa, beragama kan hak asasi, ya gak bro? Begitulah ceritanya kenapa saya ada di sana, sudah 6 bulan lebih fasilitasi pendidikan bagi orang tayawi berlangsung, di pondok sederhana di tepi Sungai Tayawi yang jernih dan banyak udangnya.

Anak-anak Tayawi membutuhkan sekolah untuk kehidupannya : agar tak takluk lagi dihadapan dunia luar yang arogan menafsirkan makna kemajuan dalam satu tafsir.