Jumat, 26 September 2008
Kukenang Mereka
Minggu, 21 September 2008
keluar dari pertapaan
Minggu, 03 Agustus 2008
Hembusan Menosur
Kelak saat tiba waktunya seorang anak mesti mencukupi sendiri semua kebutuhannya. Kemandirian anak menjadi tujuan semua pengasuhan orang tua dimanapun. Kapan itu terjadi? Di dunia luar yang selalu mengklaim sebagai masyarakat modern peran anak-anak banyak ditentukan orang dewasa disekelilingnya. Dicukupi semua kebutuhannya mereka sampai dirasa cukup untuk bisa hidup mandiri. Ini memakan waktu panjang dan mahal karena anak di dunia modern membutuhkan biaya-biaya tertentu untuk bisa dikatakan siap bertarung di dunia nyata. Bahkan tak bisa dipungkiri pola asuh dunia modern melahirkan ketidaksiapan proses-proses kemandirian. Aku saksikan ribuan pengangguran-pengangguran yang terus menjadi parasit orang tua mereka. Apa pasal? Aku tak mau sok tahu kenapa semua itu terjadi. Ah itu memang beban yang memprihatinkan bahkan itupula yang menjadi penyebab semua kekacauan terjadi di dunia modern oleh ulah parasit-parasit tersebut.
Tapi tidak terjadi di sini, ditempat yang kerap disebut masyarakat tak maju, tak beradab, dan dicap terbelakang. Aku menapikan semua itu oleh satu sebab yang diperlihatkan seorang anak di masyarakat adat orang rimba di bukit duabelas. Anak dituntut secepat munkin bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dengan asuhan alam dan kerasnya hidup. Sejak kecil Menosur salah satu anak itu mampu membuat api, mencari kayu bakar, berburu binatang kecil, dan bermasak untuk dirinya dan orang disekitarnya. Lalu tak perlu menunggu lama ia akan menyiapkan sumber kehidupannya dengan berladang dan mengasah diri dalam keahlian sebagai pemburu dan peramu. Disela-sela itu ia sekolah di sokola rimba untuk menambah pengetahuan tentang hidup. Jangan patah arang Menosur, meski dirasa terlampau dini menerima kemandirian itu, namun itu jalan terbaik dan bertanggung jawab. Agar hidupmu merdeka dan tak menjadi parasit. “Wusss, wussss, wusss” Begitulah bunyi hembusan angin yang ia tiup untuk satu kelangsungan hidup. Dan api pun menyala memanaskan sumber makanan yang ia dapatkan dari perburuan.
Tarian Langit
Entah siapa yang memulai. Saya hanya sempat menyaksikan saja satu orang anak mengenakan kain panjang. Lalu menarilah mereka sembari mendengungkan nyanyian puja-puji kepada langit malam. Untuk apakah tarian mereka? Aku tak mungkin tahu apa maksud gerakan tarian itu. Menari adalah ritual religi yang tak akan pernah bisa dipertontonkan kepada siapapun. Tidak juga aku. Anak-anak ini hanya spontan menirukan tarian religius itu seperti yang sering mereka lihat di ritual bebalay atau saat mereka menyembah tuhannya. Menarilah dengan lepas, lepas dari segala suntuk karena hari semakin ringkih buat hutan mereka. Hutan yang semakin memanggang, air sungai surut, atap langit terkoyak deru pembukaan lahan.
Dan malam menutup harinya ditingkahi segala bebunyian penghuninya. Sayup-sayup siamang menjadi musik penutup tarian langit itu.
Kamis, 24 Juli 2008
Perempuan Dalam Tradisi
Hidup memang sulit dan patut disandang di pundak, satu langkah berpeluh sama beratnya dengan ratusan langkah tergesa suami mereka saat bersabung nyawa mengejar makan buat keluarga mereka.
Ssstt..! jangan usik dulu mereka bila itu konsep canggihmu membuat tradisi asli terancam kewibawaannya.
Kamis, 05 Juni 2008
Pantun Jenaka
Bukan saya berkata bohong, Ada katak memikul kerbau
Semua tergelak mendengar pantun empat baris tersebut. Tak terkecuali, seorang bapak yang jarang berkunjung ke rumah sekolah kami pun,ia tertawa sedikit malu menyunggingkan bibirnya. Pantun itu berasal dari buku pelajarana bahasa Indonesia masa SD saya di tahun 80 an dan masih membuat orang tersenyum senang saat saya bacakan lagi ke mereka. Semua tersenyum senang mendengarnya dan sesaat dengan pantun itu mereka lupa sejenak masalah yang menimpa mereka selama ini. Mereka ini di waktu saya duduk dibangku SD tahun 80an – saat saya mulai menemukan pantun diatas – justru tak sempat ‘mempelajari’ huruf dan angka karena larangan kuat dari adat. Sebuah masa tanpa sekolah yang panjang terjadi di hutan bukit duabelas – yang juga tempat hidup masyarakat adat orang rimba.
Beberapa orang lalu menuliskan bait-bait pantun jenaka tersebut lalu ia bacakan lagi ke saudaranya, ke ibu bapaknya, dan ke setiap orang yang sekerabat di rombongnya.. Beberapa orang bahkan sudah mampu menyimpan budaya lisan asli mereka ke dalam catatan pribadinya di sebuah buku tulis kumal sambil sekolah di dalam hutan mereka. Dengan kemampuan itu kapan mereka mau ia akan membacakan pantun karangan mereka pada saya tanpa berkurang makna dan artinya karena tercatat. Oh terhibur sekali saya olehnya karena mengalami sendiri betapa manfaat menulis itu juga bisa diukur dari seberapa hebat efeknya bagi kebahagiaan orang. Saya tersenyum tanpa ragu mendengar pantun karangan mereka yang dicatat oleh salah seorang murid sokola rimba dan sahabat saya. Pemilang Laman namanya, ia membacakan pantun karangannya ini :
Siji Loro Telu Papat
Anjing Gilo gigit pantat
Saya sadari sudah sejauh ini dampak manulis dan membaca sejak sekolah di tahun 1999 masuk ke hutan mereka. Hutan jadi punya ‘pengetahuan lucu’ yang terdokumentasikan tidak sekedar di ingatan. Dan bukan itu saja, kemampuan menulis itupun, bisa jadi alat untuk menjaga kehidupan dari ancaman di luar dan sekaligus senjata mereka untuk bisa menetukan sendiri kemajuan yang sesuai dengan keinginan mereka.
Kamis, 22 Mei 2008
Senja Di Wailago

Sejarah Karet di Taman Nasional
Wah mana buktinya? Kata kehutanan yang kadang memakai pendekatan legal formal alias klaim hukum untuk mengibuli masyarakat orang rimba yang menuntut soal lahan karetnya.
Baiklah ini buktinya seperti narasi dalam tulisan dan photo tentang ‘getah’ di atas. Photo itu diambil di wilayah utara barat Taman Nasional, tepatnya di hutan Sungai Makekal agak hilir. Itu lokasi ditengah taman nasional, dan umur pohon karet produktif ini, jelas-jelas lebih dahulu dibandingkan taman nasional. Pohon karet adalah tanaman non endemic sumatera, pohon itu asalnya dari brazil, yang dibawa ke Indonesia bersamaan dengan masuknya pendatang dari luar nusantara.
Memasuki masa produksi pohon karet butuh waktu sekitar 10 tahunan atau lebih. Begitulah, maka tak tepat klaim kehutanan tersebut bila berdasar pada bukti legal. Sejak dari nenek moyang, orang melayu jambi dan orang rimba tak mengenal apa itu sertifikat tanah sebagai bukti sah. Kepemilikan diakui berdasarkan keberadaan tanaman diatasnya. Siapa yang membuka pertama sebuah lahan atau hutan lalu menanaminya maka itulah tuhan atau pemilik tanah dan kebun tersebut.
Mari dengar pernyataan seorang Tumenggung – pemimpin adat - di rombong air panas sisi selatan Taman Nasional Bukit Duabelas saat berkonflik dengan KSDA dan dinas kehutanan tahun 2006. Saya kutip kata-kata beliau menyangkut keresahan komunitas adat saat terancam diusir Negara akibat terbitnya RPTNBD atau Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas.
“Kami tidak mengerti undang-undang Negara, yang kami ngerti bahwa kami punya adat dan undang-undang nenek moyang, sejak langit naik dan bumi terciptai kami tinggal disini lah, Negara hanya datang belakangan ke hutan kami, seharusnya negara bertanya pada adat kami”
Ya ampun kalau begitu sudah jelas seharusnya, bagaimana ini tuan pemimpin yang ngatur Negara? Lah jangan niru-niru cara kompeni jaman VOC dulu. Inget lho, sekecil-kecilnya semut, kalau diinjek, satu atau dua ekor atau beramai-ramai pasti aja sanggup gigit itu kaki kompeni.
Rumah Ladang : Kukuruyuk-Kukuruyuk

“Sebaiknya kita menginap, besok pagi dilanjutkan" kata teman saya yang asli Makekal. Dimana kita bermalam, bagaimana ini? saya bingung karena kami tak bawa tenda dan makanan cukup. Ah beginilah kalau cocongoron alias sombong merasa hebat takakan tersesat. Seharusnya saya antisipasi hal terburuk sekalipun, apalagi ceritanya mau jalan di hutan. Saya dengan teman ini terus berjalan tak pasti, kelaparan, dan terus teriak-teriak berharap ada orang disekitar kami yang mendengar.
"Siapooo" Sahut-sahut dari jauh suara orang menyakan siapa kami.
“Kamia sosot ndok mati tekarot” Teman rimba saya teriak membalas dan berkata bahwa kami tersesat dan mau mati karena kelaparan.
“Kemaaii” teriaknya mengundang kami datang.
Ah dasar teman saya ini senangnya hiperbolis, gak mungkin deh mati karena gak makan setengah hari. Laper memang laper, tapi saya masih ingat, kami berdua makan nasi bungkus gulai ikan dari RM Minang Raso di luar hutan sebelum masuk hutan Makekal. Tapi biarin aja, saya butuh shelter untuk melewati malam hujan terkutuk ini. Brrrrrr,.. kami gemeletuk kedinginan sambil merayap dikegelapan menuju suara undangan mampir itu.
“Oh, Bujang lapuk, noeklah anggo rumah guding, akeh ado ubi kayu” Rupanya ini rumah seorang bapak yang saya kenal juga, namanya tak perlu disebut, dia bilang setengah menghina saya soal status bujangan saya. Tapi ia mempersilahkan naik ke rumahnya, tepatnya lagi rumah di tengah ladang yang sekelilingnya hutan belantara.
Pemukiman orang rimba selalu dekat dengan sungai dan dengan tetangga terdekatnya berjarak relatif, paling dekat sejarak saling terdengar saat berteriak.
Ubi kayu rebusnya sudah dingin karena sejak sore dia masak, saya tak tahu diuntung dengan kebaikannya. “ada yang hangot guding?” Maksudnya saya tanya ada yang panas? Dia menggeleng dan hanya memonyongkan mulutnya ke arah luar menunjuk pepohonan ubi kayu yang tertanam di hamparan ladangnya yang sudah gelap. “kalau mau ambil di kiun” Kata dia lagi menyilahkan saya mencari dan mencabut sendirin jika mau ubi kayu hangat. Ah hari sudah malam, saya telan saja ubi kayu dingin ini, daripada harus mencabuti batang ubi kayu sendiri.
Esok paginya. Saya disuguhi lagi ubi kayu yang panas dan nikmat sebagai sarapan.Terima kasih kawan, lalu saya pamit, lalu kami berjalan lagi, menyusuri setapak, melanjut perjalanan yang tertunda semalam.
Senin, 07 April 2008
Yang Datang dan Yang Pergi
“Kemana saja kawan selama ini?”
“Ake pergi bermalam bantu kanti menuoi padi” Begitu jawabnya yang artinya saya pergi menginap bantu orang memanen padi.
Dia mengatakan lagi bahwa panenan belum selesai dan ia bermaksud mengambil bukunya agar ia bisa belajar sambil membantu memanen.
Oh mengharukan sekali mendengar tujuan dia datang, saya suruh ambil itu buku miliknya, dan saya tambah terharu saat sebelum pergi ia mengerjakan sebentar latihan-latihan yang seharusnya ia kerjakan nanti di tempat panenan sambil tengkurep beralas matras di halaman sokola rimba.
Sehabis makan siang bersama di sokola rimba, ia pamitan untuk pergi lagi, ”Berapa lama kawan pergi guding?” Tanya saya kepadanya.“Eh entah” Ujarnya sambil berjalan mantap meninggalkan sejenak sokola rimba di Sako Napo Makekal Hulu..
Selepas kepergiannya, datang pula murid yang lain, yang sama menghilang karena kesibukan di rombongnya. Tapi yang ini lain,dia baru pulang kerja rotan dari Rimba Telay agak 30 kilo meteran dari rimba Makekal.
“Mumpamono ado hasil?” tanya saya menanyakan hasil kerjaannya di Rimba Telay,
Ujar murid itu katanya lumayan sambil dijelaskan bahwa dari hasil ikut kerja rotan itu ia bisa membelikan gula dan tembakau buat orang tuanya.
Ah, hebatnya anak-anak ini, karena setelah selesai menunaikan tugas dan bantuan kecil untuk orang disekitarnya ia akan belajar lagi. Teruslah belajar dan jangan pernah berhenti karena persoalan hidup tak akan pernah berhenti.