Sabtu, 01 Maret 2008

Are U Ready Viking Boy



Sejak kecil aku menggilai sepakbola namun untuk memilih karier sebagai pemain rasa-rasanya tak menjanjikan waktu itu. Dan waktu pun bergulir hingga aku hanya bisa menjadi suporter sebuah klub bola dimana aku di besarkan. Hingga kini, saat aku terdampar dalam profesi yang mengharuskan merantau ke tanah seberang -- menjadi seorang antropolog -- sepakbola tetap tak bisa dilupakan sebagai tontonan yang paling mungkin bisa melupakan segala masalah berat sekalipun. Itulah alasan yang mendorong saya selalu rindu kotaku, kota dimana aku bisa memuaskan kegilaan itu.

Setahun yang lewat saya pulang ke Bandung sehabis menyelesaikan tugas-tugas pendampingan di pulau besar sebelah utara Maumere, Flores, NTT. Aku SMS sahabatku tentang kepulangan ini untuk memastikan jadwal pertandingan liga Indonesia yang bisa aku saksikan. “Welkom Back Bro, besok pertandingan besar jangan kemana-mana, Persib VS Persija”. Di pesawat itu hatiku berdebar aneh membaca sms sahabat saya ini. Aku tak sabar menunggu esok hingga ingin rasanya aku ambil alih kemudi pilot pesawat dan kutancap gas pesawat ini hingga melaju secepat yang kuinginkan.

Keesokannya aku lihat anak-anak se usia keponakanku terlalu dini ada di riuhnya ribuan suporter dalam suasana penuh sesak sebuah stadion. Seandainya ia ada di Inggris, mungkin dirinya akan nyaman saat menikmati liukan Christian Ronaldo atau Frank Lampard dalam suatu pertandingan bermutu dengan kenyamanan kelas satu di sebuah stadion. Khayalku buyar, ini negeri kita bro, sebuah pertandingan bola, yang tak ramah dengan anak. Anak-anak itu penuh perjuangan di sini, dihimpit di desak sejak di antrian masuk dan dikerangkeng seakan makhluk buas oleh sekat pagar kokoh : tinggi dan berjeruji kawat yang dijaga dengan ketat oleh aparat keamanan berbaju seragam. Sejak dini suporter cilik di belahan nengeri ini dihadapan struktur kebanyakan stadion sepakbola kita – dan oleh kecurigaan aparat sebagai biang kerusuhan -- ternyata diajarkan tanpa sadar untuk melakukan perlawanan simbolik dan demonstratif.

“Wasit Goblog” demikian tulisan di kaos salah satu anak itu, kita sama tahu bro, wasit kita aneh-aneh sejak ada mafia-nya.. Atau seperti yang kulihat salah satu anak ikut melempari petugas dengan botol akua karena terjadi insiden saat seorang penonton yang naik ke pagar dipukuli petugas : solidaritas kerumunan jadi keharusan. Bau pesing menguap di udara di tribun tersebut, tak ada WC layak bro, hingga tembok belakang tribun menjadi WC bersama ketika babak I berakhir. Sampai lupa bro, petugas di pintu stadion pun nakal-nakal memasukan penonton illegal dengan karcis keriting. Suporter cilik kita jadi terbiasa dengan segala ketidaklayakan dan dekadensi moralitas.

Bagaimana ini? Siapa yang bertanggung jawab bila kelak anak-anak ini lantas menjadi penerus hooliganisme bola yang sekarang diributkan? Ah khayalku buyar tentang ‘liga Inggris’ karena ini utopia yang tak akan terjadi bila ketua PSSInya saja sebagai pihak yang seharusnya bertanggung jawab menjalankan roda organisasinya dari balik jeruji. Negeri bola yang tak patut diteladani oleh anak-anak dan generasi suporter cilik lainnya. Saya gila bola bro saya ingin Revolusi di tubuh PSSI. Are U ready Viking Boy?

Tidak ada komentar: