Selasa, 04 Maret 2008

Jalan kaki berdarah


Ayo kita mulai dari kaki..Maksud saya dari jalan kaki. Sehat? Tentu saja, yang tidak menyenangkan dari jalan kaki adalah capenya itu, apalagi ditambah lapar, maka jalan kaki saat itu hal yang paling tak disarankan sebagai olah raga. Bayangin aja kalo lapar dan cape itu terjadi pas di bukaan kebun sawitan, panasnya bro kagak nahan. Ditambah kehausan maka lengkap sudah penderitaan itu. Eh awas juga itu tuh, binatang item kecil kenyal dan haus darah orang. Rentenir? Bukan ah, namanya pacot atau pacet sejenis lintah kecil yang senang menghisap darah pejalan kaki di hutan makekal itu. Si pacot ini senang menempel di segala penjuru tubuh kita. Ati-ati bro, saya pernah menemukan pacot yang sudah sebesar jempol menempel di selangkangan saat mandi, dia sudah mati sendiri, ihh artinya sudah dua hari ia menempel? Amboi dah. Jangan diterusin.

Jalan setapak, jalan kaki cape berlapar-lapar, sambil mengajar baca tulis hitung, berbagi pengetahuan, tinggal bersama muridnya,terpencil didalam hutan, dan kakinya berdarah darah macam diatas? Mengapa kau memilih seperti itu? Katanya banyak mimpi di sokola rimba, itu nama lokasi program si pemilik kaki yang juga ngajar di sana bersama ibu guru rimba butet manurung.

Awalnya sih geli, tapi sekarang mah biasa katanya, cincay lah dapat diatasi. Digigit pacot jadi gatal sesudahnya,yang tak terbiasa akan korengan karena terus digaruk, wah gak bisa jadi peragawati dong karena kakinya korengan? Tapi pacot gak bahayain kesehatan kok, kata dokter Ati teman saya. Malah bagus dengan sering di gigit maka darah yang keluar akan mereproduksi lagi darah baru, itu bagus bukan? ah itu juga kata teman saya yang dokter.

Hai pemilik kaki berdarah, hutan makekal hulu masih seperti biasanya, kami sedang kerepotan menyiapkan makan pagi untuk semua murid dan gurunya. Sementara ini ‘janji’ pihak balai taman nasional bukit duabelas –yang dulu mau ngusir ke zona pemanfaatan di luar hutan – masih memainkan lagu lama, janji tinggal janji, kagak ada bukti. Banyak ngulur waktu dan banyak boongnya, kagak gentlemen lah. Betul sekali, komunitas tempat kami ngajar sedang berjuang untuk mendesak agar aturan zonasi di RPTNBD mengikuti tata kelola adat.
.
Eh kemana LSM konservasi yang selama ini juga mendampingi komunitas ini dalam misi konservasi?

“Nyuduk anggo rabah” alias lari sembunyi ke semak-semak begitu kata anak-anak rimba di sokola kami ketika mereka berjuang untuk kedaulatan adat dan tanah di hutan makekal.

Bunga-bunga bermekaran di hutan makekal. Penuh bunga di taman nasional ini, tapi wanginya tak semerbak. Mari jalan kaki lagi bro, menembus setapak yang lembab dan basah lagi dan berdarah – darah lagi kaki ini. wake up today is back to the deep forest.

Tidak ada komentar: