Rabu, 05 Maret 2008

Sekolah Kehidupan bagi Anak Tayawi


Sumber informasi paling terbaru kelompok suku asli halmahera ini didapat dari liputan koran lokal di Ternate yang memberitakan kunjungan seorang pejabat ke orang ‘togutil’ yang hidup di hutan-hutan sepanjang sungai Tayawi.

Siapa sesungguhnya ‘togutil itu? Apa makna nama itu sendiri di dalam intepretasi masyarakat suku asli di Halmahera bro?

Dipelajari lebih lanjut ternyata togutil itu sama makna dan nasibnya dengan istilah kubu bagi suku-suku asli di Jambi. Orang rimba bahkan menganggap kubu sebagai hinaan atas cara hidupnya yang berbeda dengan orang kebanyakan. Togutil apakah pernah kepikiran bahwa kata ini merupakan kependekan dari to go to the hill. Orang-orang yang tinggal di perbukitan, orang bukit, orang yang tak menetap, ah seterusnya disebut Togutil yang konotasinya liar dan tak beradab dipandang kita yang mengaku beradab.

Mereka disebut Orang Tayawi oleh warga pendatang di dusun dan lokasi transmigrasi di sekitar karena hidup di sepanjang hutan di sungai Tayawi. Dan beberapa kali mereka menyatakan ingin sekolah dan meminta pada pejabat yang mengunjungi mereka dalam koran itu. Seperti yang sudah-sudah, kunjungan itu hanya strategi kehumasan belaka, aspirasi orang tayawi ini tak pernah di gubrisnya. Itu kata mereka sendiri saat saya bilang saya tahu lokasi ini setelah membaca Koran.

Tempat itu dicapai beragam transportasi laut dan darat. Bikin cape bro dan mahal sekali ongkos menembus Halmahera. Jalanan buruk , apalagi hujan, tambah hebat kesulitannya. Namun itu sudahlah, toh kami ahirnya bisa ada di kelompok orang tayawi ini yang dipimpin seorang bernama Kahoho. Kahoho sudah tua, anggota kelompoknya adalah anak dan menantu, serta cucu-cucunya. Lebih pas di sebut keluarga besar. Sekilas diobrolan dengan salah satu menantunya tergambarkan bahwa orang tayawi ini pesimis pada masa depannya.. Kami orang-orang kalah dan terdesak terus oleh dunia luar.

Orang Tayawi menyebutkan dunia luar itu banyak macam : Perusahaan Tambang yang menggusur tanah leluhurnya, transmigrasi yang makan lahan luas, perkebunan besar milik swasta dan Negara, dan juga ‘peng-agama-an’ mereka oleh pihak luar. Kelompok mereka dianggap sekumpulan domba yang tersesat, kafir, dan bergelimang dosa dan menjadi sasaran pengagamaan. Sejak itulah orang-orang asli ini tercerai berai dan terdesak serta kehilangan identitasnya oleh ‘larangan-larangan terhadap ritual agama asli oleh agama baru yang menganggap dirinya sebagai agama resmi. Hilang sudah fundamental kebudayaannya bila ketuhanan asli di paksakan takluk terhadap tuhan yang baru, tuhan yang resmi, dan tuhan yang diakui Negara.

Negara dari hongkong? Kata kami dalam hati. Seperti itulah negeri kita bro, banyak benar masalahnya, seabrek bro. bahkan untuk urusan tuhan aja sukanya maksa-maksa, beragama kan hak asasi, ya gak bro? Begitulah ceritanya kenapa saya ada di sana, sudah 6 bulan lebih fasilitasi pendidikan bagi orang tayawi berlangsung, di pondok sederhana di tepi Sungai Tayawi yang jernih dan banyak udangnya.

Anak-anak Tayawi membutuhkan sekolah untuk kehidupannya : agar tak takluk lagi dihadapan dunia luar yang arogan menafsirkan makna kemajuan dalam satu tafsir.

Tidak ada komentar: